Pendidikan Akhlak Melalui Puasa Ramadhan



Dunia Kita: Sudah sering kita dengar dan sudah sering kita membaca ayat tentang perintah  berpuasa sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:

           يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ 

ArtinyaHai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Dengan berpedoman pada ayat tersebut kita dapat merasakan dan melaksanakan pendidikan akhlak melalui puasa ramadhan dengan sebaik-baiknya.
Ayat tersebut menjelaskan pada kita yang memiliki lima hal penting yang perlu kita perhatikan yaitu :

1. Panggilan kepada orang-orang yang beriman

Panggilan memiliki arti dan makna bahwa orang yang di panggil memiliki kekhususan tersendiri atau menjadi istimewa apabila dibandingkan dengan orang yang tidak di panggil. Orang yang di panggil juga memiliki nilai dari siapa yang memanggil.

Orang yang di panggil merupakan orang-orang pilihan terhadap sebuah kepentingan apapun. Di sini pada ayat ini yang di panggil adalah orang- orang yang beriman. Ini mempunyai arti khusus dan istimewa bahwa orang - orang yang beriman memiliki nila yang tentunya lebih baik dari pada orang-orang yang tidak beriman. Orang yang di panggil adalah orang yang diperhatikan oleh siapa yang memanggilnya. Jadi dalam ayat ini orang-orang yang beriman menjadi orang istimewa bagi yang memanggilnya, karena orang yang tidak beriman tidak akan dipanggil seperti yang terdapat pada ayat ini.

Kemudian kita mencoba memahami bahwa siapa yang memanggil kita, siapa yang menyapa kita sangat berpengaruh terhadap nilai diri pribadi kita. Misalnya kita di panggil anak kecil akan berbeda dengan kalau kita di panggil oleh anak orang dewasa. Begitu pula jika kita di panggil oleh orang biasa akan sangat berbeda jika kita di panggil oleh seorang lurah, camat, bupati, gubernur bahkan presiden. Jika kita di panggil oleh presiden maka sudah barang tentu kita memiliki nilai lebih baik dari derajat pangkat dan kedudukan.

Dari uraian di atas tentu kita akan lebih memahami bahwa kita dipanggil oleh Allah Swt. Kalau kita di panggil Allah sudah barang tentu kita adalah orang yang memiliki derajat dan kedudukan yang tinggi yang disebabkan karena kita adalah orang - orang yang beriman. Jadi mengapa kita di panggil oleh Allah Swt karena tak lain adalah karena kita adalah orang - orang yang beriman yang sangat di perhatikan oleh Allah Swt. Jadi beruntung sekali bagi kita termasuk orang-orang yang beriman.

2. Penetapan suatu aturan /hukum

Kata  كُتِبَ     menurut bahasa mempunyai arti telah dituliskan atau di tetapkan atau diwajibkan. Kata ditetapkan mengandung arti perintah yang harus dijalankan. Perintah memiliki arti sesuatu yang harus dilaksanakan oleh orang yang memiliki kemampuan dengan suatu ketentuan-ketentuan. Orang yang di perintah memiliki hubungan tertentu. Di sini orang yang diperintah adalah orang-orang yang beriman sedangkan yang memerintah adalah Allah Swt dalam kitab suci-Nya. Ini memiliki hubungan yang sangat erat antara orang yang beriman dengan yang di-imani yaitu Allah Swt. Bahwa Allah Swt sangat memperhatikan hambanya yang beriman sangat menyayanginya sehingga Allah memberikan perintah kepada orang-orang yang beriman dengan tujuan yang barang tentu menurut Allah adalah suatu hal yang sangat baik. Karena Keimanan akan membawa manusia menjadi manusia yang baik.
Dengan demikian Allah memerintah kepada orang-orang yang beriman agar orang-orang yang beriman menjadi lebih baik lagi.

3. Apa perintahnya (puasa/Menahan)

Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk berpuasa(menahan) agar orang orang yang beriman dapat menahan hal-hal yang menurut Allah Swt tidak baik dan tidak pantas bagi orang-orang yang beriman. Allah tidak memerintahkan berpuasa kepada orang-orang yang tidak beriman atau dengan sebutan lain kafir.Justru perintah berpuasa di berikan kepada orang-orang yang beriman agar perilaku orang yang beriman menjadi pantas sebagai orang yang beriman.

Menahan atau berpuasa adalah perilaku fisik yang secara lahir menahan makan dan minum namun secara batin Allah menghendaki agar kita terjaga dari perbuatan keji dan mungkar seperti menggunjing , marah, berkata jorok berjudi, menghina dan perbuatan perbuatan keji dan maksiat lainnya. Ketika orang yang beriman berpuasa diharapkan orang yang beriman dapat menghindari perbuatan-perbuatan setan dan memperbanyak amal kebaikan berzikir pada Allah Swt.

Ketika orang sedang lapar emosional-nya akan lebih terjaga dari godaan setan selama 1(satu) bulan penuh. Menahan selama bulan puasa diharapkan orang yang beriman bertambah kuat imannya bertambah kuat kebiasaan menahan nafsu setan-nya dan bertambah kuat dalam ibadahnya kepada Allah Swt. 
Inilah sesungguhnya pendidikan dan latihan bagi orang-orang yang beriman agar menjadi orang yang lebih kuat imannya. amiin

4. Orang-orang beriman terdahulu juga berpuasa.

Perintah dalam ayat ini tidak serta merta diperintahkan kepada kita tanpa adanya pendahuluan atau pelaksanaan oleh orang - orang terdahulu. Ini mengandung maksud bahwa perintah harus dapat di ukur kepada siapa perintah itu di berikan dan berapa besar kemampuan untuk menjalankan perintah itu. Perintah puasa itu diberikan kepada kita bagi orang orang yang beriman pada masa kenabian Muhammad Saw berarti seluruh umat Muhammad mampu melaksanakan puasa. Jadi kesimpula-nya perintah harus dilaksanakan kepada orang dan terukur untuk dapat dilaksanakan. lain halnya dengan kita, kita sering memerintah tetapi kita kadang lupa mampu tidak orang yang kita beri perintah?. 
Ini merupakan pelajaran bagi kita dalam hidup bermasyarakat sebagai makhluk sosial bahwa kita tidak boleh semena-mena memerintahkan sesuatu kepada sesama kita

5. Agar menjadi orang yang bertakwa

Akhir dari perintah puasa adalah pahala dan pendidikan yang akan menghasilkan ketaatan dan ketakwaan. Setelah berpuasa sebulan penuh menahan amarah, nafsu setan, dan banyak berbuat baik di bulan puasa maka kalau dilakukan dengan tulus hanya mengharap ridha dari Allah Swt maka orang yang melakukan puasa seperti itu akan mendapat pahala bahkan titel takwa dihadapan Allah Swt.

Kesimpula-nya adalah bahwa derajat yang tinggi diperoleh dari panggilan Allah Swt untuk berpuasa berlatih dan dididik selama sebulan penuh untuk memperbaiki keimanan dan ketakwaan. Dengan pendidikan akhlak melalui puasa ramadhan kita akan menjadi orang beriman yang berakhlakul karimah .Wallahu a'lam. Mudah-mudahan puasa kita benar benar dapat mendidik kita menjadi orang yang benar-benar bertakwa. Aamiiin...

Related Posts:

0 Response to "Pendidikan Akhlak Melalui Puasa Ramadhan"

Posting Komentar